Jumat, 15 April 2016

Hei, Cinta. Masih Ingat Aku?


Aku mengira cinta pertamaku tumbuh saat aku duduk di bangku SMP. Ternyata aku salah. Aku mengingat kembali kejadian sepuluh tahun lalu. Saat aku duduk di kelas dua SD. Orang tuaku menitipkanku kepada salah satu pondok pesantren di daerah Indramayu, Jawa Barat. Kebetulan aku dan dia duduk di satu kelas yang sama.

Laki-laki itu tidak terlalu tampan tetapi cukup manis. Aku menyukai ketika dia tersenyum. Dia pecinta sepak bola. Tak heran, kulitnya sedikit cokelat karena terbakar sinar matahari.

Dia bukan murid pandai di kelas. Tetapi dia cukup pandai memikat hati para perempuan di kelasku. Tak terkecuali diriku. Dengan sikap dia yang terbuka, ramah, dan lucu. Dia berhasil membuat aku hmmm jatuh cinta. Yah, aku tahu ini hanya cinta monyet. Tetapi apalah daya gadis kecil yang sedang jatuh cinta tak mengerti istilah cinta monyet. Yang aku tahu itulah cinta sejati.

Setiap hari aku memperhatikan dia di kelas. Kebiasaan dia yang selalu dikerumuni banyak teman. Tak seperti aku yang pemalu dan penyendiri.
Tetapi saat aku sibuk memperhatikannya, dia menoleh padaku. Dan mulai menghampiriku. Aku membelalakkan bola mataku. Belum sempat aku menggerakkan badan dia sudah di depanku.

"Re, kamu besok lihat aku tanding kan?." Tanyanya sambil mengetukkan jari telunjuknya di mejaku.

"Oh, emm i iya-iya aku pasti lihat kok."
Jawabku tergagap. Tak menyangka dia menanyakan itu. Kalaupun dia tak menanyakannya aku pasti akan melihatnya bertanding.

"Kamu harus lihat. Walaupun ini hanya pertandingan persahabatan. Tapi ini demi menjaga kehormatan kelas kita." Katanya sambil tersenyum. Senyum yang membuat aku meleleh. Manis.

***
Pertandingan sudah dimulai. Aku datang agak telat. Karena membantu guruku menyiapkan snack untuk para pejuang kelasku.

Aku duduk melihat pertandingan yang sudah dimulai. Oh, bukan melihat pertandingannya. Aku melihat Dia. Lelaki itu bergerak lincah mengoper bola. Baju yang dia kenakan juga mulai basah. Aku tersenyum. Pejuang kelasku.

***
"Selamat ya Danan. Berkat kamu dan teman-teman satu tim kamu kelas kita menang." Aku mengulurkan tangan menyelamatinya setelah tim kelas kami menang pada pertandingan dua hari yang lalu.

"Bukan apa-apa. Ini juga berkat dukungan kalian." Ia membalas uluran tanganku. Aku tersenyum sangat lebar. Sampai tak bisa merasakan tangannya sudah tak lagi menyentuh tanganku.

***

Beberapa minggu setelah pertandingan, kami mulai akrab. Bisa dikatakan jika ada aku, diapun ada.
Pernah suatu ketika saat kami sudah naik ke kelas tiga dia memberikan nomor teleponnya kepadaku.
Aku sangat senang. Tidak tahu kalau dia tidak mempunyai telepon.

Aku mencoba menelponnya lewat telepon umum yang disediakan pihak pesantren. Ternyata nomor itu tidak aktif. Ketika di sekolah akupun memarahinya dan memukul-mukul lengannya. Mataku mulai berair. Dia tertawa. Berhasil mengerjaiku.

Aku meninggalkannya dan duduk di bangku paling belakang. Sambil menyobek kertas menjadi potongan kecil.

"Tidak perlu marah. Aku hanya ingin sedikit bercanda denganmu." Entah sejak kapan dia sudah duduk di samping bangkuku.
Bagaimana aku bisa tidak marah kalau aku sangat senang ketika mendapatkan nomor telepon lelaki yang aku sukai, tetapi dia malah memberi nomor yang salah. Dan dia hanya bilang "Aku hanya ingin sedikit  bercanda denganmu." Hissh.. sedikit. Itu tidak sedikit menurutku.

"Senyum dong."

Aku sebenarnya malas untuk menoleh padanya.Tetapi aku tetap menoleh dan tersenyum juga. Aku paling benci di saat-saat seperti ini. Aku selalu kalah oleh pesonanya.

***

Pengumuman kenaikan kelas sudah di beritahukan wali kelas kepada kami. Kami seratus persen naik kelas. Kami gembira. Tak terkecuali aku dan Danan.
"Aku penasaran dengan pembagian kelas nanti. Apa kita akan satu kelas lagi?." Tanya Danan setelah pemberitahuan kenaikan kelas.
Aku hanya mengangkat bahu.

Liburan kenaikan kelas berlangsung selama satu bulan. Akupun memanfaatkan itu untuk pulang ke rumah orang tuaku di Surabaya. Ya, aku berlibur disana selama satu bulan.
Danan pun demikian. Rumahnya terletak di daerah Jakarta. Tetapi aku tidak tahu tepatnya dimana.

"Rere, kamu pasti balik ke pesantren kan?." Tanya Danan ketika aku bertemu dengannya di depan asramaku.

"Pasti dong. Aku sudah betah disini."

"Janji?"

"Janji."
Kami saling melingkarkan jari kelingking sebagai tanda persahabatan. Tapi akupun tidak tahu apakah persahabatan kita akan terjalin selamanya atau sampai disini. Dan apakah persahabatan itu harus disertai dengan kebohongan. Seperti yang aku lakukan. Aku tak pernah menepati janjiku untuk kembali ke pesantren seperti yang pernah kujanjikan pada Danan.

Sampai saat aku duduk di kelas dua SMP di salah satu sekolah di Sidoarjo. Mengingat kenangan-kenangan saat bersama sahabatku, Danan yang aku tidak tahu bagaimana keadaannya. Apakah dia tumbuh menjadi lelaki dewasa yang tampan. Atau tetap menjadi lelaki yang selalu membuat aku mengembangkan senyum.

Dan akupun iseng mengetik namanya di pencarian pada akun sosial media facebook yang saat ini sedang booming. Ulahkupun tidak sia-sia. Aku menemukan namanya dari sederet nama-nama yang mirip dan hampir mirip dengan namanya pada layar handphone ku. Aku meng-klik pada nama yang kumaksud. Aku melihat profile picturenya. Dan ternyata... itu Danan. Lelaki yang selama ini selalu ada di bayang-bayang tidurku. Dan sekarang aku menemukannya.

Tapi.. tunggu dulu. Di foto itu dia tidak sendirian. Dia bersama dengan.. wanita. Mereka saling tersenyum. Lepas. Serasa dunia milik mereka berdua.

 Aku mengarahkan jariku untuk mendapatkan informasi tentang foto itu di timeline akunnya. Dan ternyata dia adalah sahabat barunya. Ya, sahabat.

Memang bukan salahnya jika ia memiliki sahabat-sahabat baru. Toh dia memang ramah kepada siapa saja.Tetapi ada satu pertanyaan. Apakah dia masih mengingatku? Setelah enam tahun lamanya kita tidak bertukar kabar.

Akupun menambahkan dia sebagai teman akun facebookku. Dia langsung menerimanya. Segera mungkin aku mengirim pesan

 "Hai, Danan. Apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu."

Seperti itulah isi pesan yang aku kirimkan. Berharap dia langsung membalasnya. Tetapi sampai saat ini saat aku duduk di kelas tiga SMA dia tidak membalas pesanku. Oh, apakah dia marah padaku setelah aku melanggar janjiku sembilan tahun yang lalu? Sampai saat ini akupun tidak tahu.




Kamis, 14 April 2016